you have entered the zone's Fitrah

interest with Arch, Interior, Photograph....

Jumat, 25 Maret 2011

BANGUNAN HEMAT ENERGI

BANGUNAN HEMAT ENERGI

Pendahuluan
Isu penipisan sumber daya energi di Indonesia (salah satunya adalah cadangan minyak nasional) bukan lagi menjadi sesuatu masalah yang baru. Akibat dari penipisan ini pastinya sangat merugikan negara, masyarakat, dan individu manusia dalam hal komponen kehidupan, seperti kenyamanan, kesehatan, aktivitas, ekonomi, dll. Salah satu sektor penting yang sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahan bakar minyak adalah bangunan, umumnya mengonsumsi BBM dalam bentuk energi listrik sekitar 30-60 persen dari total konsumsi BBM di suatu negara.
Permasalahan lain yang utama juga adalah kondisi termal di berbagai tempat yang bervariasi, sehingga tercipta iklim dan cuaca yang berbeda pula. Hal ini memberi pengaruh terhadap kebutuhan masing-masing orang, seperti penghangat ruangan, pendingin ruangan, yang pada akhirnya merujuk pada penipisan sumber daya energi. Oleh sebab itu, hemat energi seharusnya sudah menjadi acuan yang diterapkan pada masing-masing bangunan saat ini.
Untuk kawasan tropis, penggunaan energi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik umumnya lebih rendah dibandingkan dengan negara di kawasan sub- tropis yang dapat mencapai 60 persen dari total konsumsi energi. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pemanas ruang di sebagian besar bangunan saat musim dingin. Sementara di kawasan tropis, pendingin ruang (AC) hanya digunakan sejumlah kecil bangunan. Meskipun demikian, penghematan energi di sektor bangunan di wilayah tropis semacam Indonesia tetap akan memberikan kontribusi besar terhadap penurunan konsumsi energi secara nasional.
Bangunan merupakan penyaring faktor alamiah penyebab ketidaknyamanan, seperti hujan, terik matahari, angin kencang, dan udara panas tropis, agar tidak masuk ke dalam bangunan. Udara luar yang panas dimodifikasi bangunan dengan bantuan AC menjadi udara dingin. Dalam hal ini dibutuhkan energi listrik untuk menggerakkan mesin AC. Demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang.
Makalah ini lebih memaparkan persoalan termal dan panas di dalam bangunan yang berkaitan dengan kondisi termal di sekitarnya serta penyelesaian masalah untuk menghemat pemakaian energi. Kaitan termal dengan penghematan energi (kebanyakan energi listrik) itu sendiri adalah kebutuhan manusia akan kondisi yang aman, nyaman, dan sehat yang sebagian besar dapat diperoleh lewat keadaan termal sekitar kita, mengonsumsi energi yang berbeda-beda besarnya.

Tinjauan teori
Hemat energi dalam arsitektur adalah meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan, maupun produktivitas penghuninya. Secara lebih luas hemat energi harus dimulai dari masing-masing cara pengoperasian bangunan. Penghematan energi melalui rancangan bangunan mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik bagi pendinginan udara, pemanas ruangan, penerangan buatan, maupun peralatan listrik lain. Dengan strategi perancangan tertentu, bangunan dapat dimodifikasi, sehingga iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi. Kebutuhan energi per kapita dan nasional dapat ditekan jika secara nasional bangunan dirancang dengan konsep hemat energi.
Perancangan bangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia dapat dilakukan dengan perancangan secara pasif, dan perancangan secara aktif. Perancangan secara pasif adalah perancangan bangunan yang memberikan kondisi aman, nyaman dan produktif bagi pengguna bangunan secara alami. Aplikasinya lebih ditekankan pada rancangan massa dan fasad bangunan (seperti orientasi, material bangunan, ventilasi, zoning, dll) agar optimal dalam penggunaan cahaya alami, memperoleh suhu nyaman dan mendapatkan pergerakan udara yang baik.
Perancangan aktif adalah perancangan bangunan yang memberikan kondisi aman, nyaman dan produktif bagi pengguna bangunan secara mekanik, seperti penggunaan AC (air conditioner), pemanas ruangan, ventilasi mekanis, dll. Untuk mencapai kenyamanan dan produktifitas pengguna bangunan harus menggunakan energi yang tidak dapat diperbaharui, seperti energi listrik, energi fosil, minyak bumi, dan batu bara. Perancangan secara aktif ini perlu diantisipasi dengan solusi yang hemat energi.

Penerapan dalam bangunan
Suhu menjadi satu hal yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari dan untuk mencapai sebuah kenyaman, kesehatan, keamanan, dan kemudahan dibutuhkan energi (dapat diperbarui dan tidak dapat deperbarui). Energi yang dipakai berbeda-beda kuantitasnya. Dengan isu yang ada sekarang ini soal krisis energi, maka sangat diharapkan pemakaian energi yang efektif dan efisien. Salah satu aplikasinya dapat diterapkan pada bangunan. Ada dua bagian penting sebagai penerapannya, yaitu perlakuan terhadap bangunan dan tindakan dari pengguna bangunan itu sendiri :
  1. Perlakuan terhadap bangunan
Untuk mencapai hasil kenyamanan, kesehatan, dan keamanan dengan penghematan energi, diperlukan treatment pada bangunan itu sendiri. Berikut adalah beberapa bagian rumah yang diberikan perlakuan (pasif dan aktif) untuk meminimalkan penggunaan energi.
-       Secara aktif
  • Menggunakan tenaga surya
Cahaya matahari menjadi salah satu sumber energi alternatif yang paling sering digunakan untuk mengurangi bahkan bisa mengganti pemakaian energi listrik. Seperti yang kita ketahui, energi listrik sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk penerangan, pendingin ruangan, pemanas ruangan, pemanas air, dan lain-lain. Dalam hal ini, dibutuhkan perangkat tambahan pada bangunan untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Perangkat ini biasanya di pasang di atap atau dinding tergantung orientasi dari bangunan itu sendiri, apakah langsung ke arah sinar matahari, atau tertutup dengan pohon, dll. Hasil dari penyerapan energi surya tadi, dapat digunakan sebagai pemanas air, penerangan,, dan kebutuhan rumah tangga. Banyaknya energi yang bisa dipakai tergantung dari perangkatnya seberapa besar daya yang bisa diberikan.
  • Menggunakan kincir angin
Angin juga bisa dijadikan sebagai energi alternatif, hanya saja di Indonesia jarang diaplikasikan pada rumah tinggal, tetapi untuk bangunan tinggi sekitar 5 lantai atau lebih biasanya dipakai, karena semakin tinggi dari permukaan tanah, kecepatan angin juga lebih besar. Untuk rumah tinggal juga seharusnya mulai memakai perangkat ini.
Hal tersebut di atas adalah beberapa solusi untuk menghemat pemakaian energi pada perancangan bangunan secara aktif yang menggunakan AC, pemanas ruangan, ventilasi mekanis, dll.
-       Secara pasif
Metoda ini lebih ditekankan pada desain bangunannya, seperti penyesuaian fasad bangunan dengan orientasinya dan rancangan lansekapnya. Berikut ini adalah beberapa solusi untuk mendapatkan kondisi termal yang baik.
  • Pendingin tanpa AC
Dilakukan dengan cara membuat ventilasi alami, awning (tenda rumah), kaca pemantul cahaya, kisi-kisi, dll.
  • Penerangan indoor dan outdoor
Sedapat mungkin pada siang hari tidak memakai penerangan dari lampu. Untuk bagian ruangan yang tidak mendapat cahaya matahari, dapat menggunakan skylight (bukaan pada bagian atap).
  • Material bingkai jendela
Jendela yang efisien bukan hanya terletak pada jenis kacanya, tetapi juga bingkainya. Ada beberapa material bingkai jendela yang menambah efisiensi energi, seperti aluminum, fiberglass, vinyl (PVC), kayu, atau kombinasinya.
  • Insulasi termal
Insulasi termal adalah material yang berguna untuk mengurangi laju perpindahan panas, atau proses untuk mengurangi laju perpindahan panas. Panas bisa dipindahkan dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi atau ketika terjadi perubahan wujud. Aliran panas dapat dikendalikan dengan proses ini, tergantung pada sifat material yang dipergunakan. Insulasi dapat digunakan pada dinding, lantai, langit-langit atap, pusat pemanasan pada bangunan. Pada dinding, bagian yang berongga pada dinding diberi insulasi, begitu juga halnya untuk lantai. Tujuan dilakukan insulasi ini adalah mengurangi kehilangan panas dari luar bangunan serta menjaga aliran udara hangat agar tetap di dalam bangunan.
Salah satu teknik insulasi yang lainnya adalah double-glazing. Kaca pada jendela terdiri dari 2 lapisan kaca yang terpisah beberapa millimeter. Setelah dikunci tertutup, jarak antarkaca tadi berfungsi untuk menangkap udara dan udara tersebut menjadi insulasi pada kaca.


Kesimpulan
Kondisi termal dan panas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan hidup kita sehari-hari untuk mencapai kenyamanan, kesehatan, dan keamanan. Seperti yang kita ketahui, kondisi termal dan panas di beberapa tempat berbeda-beda, sehingga tercipta iklim dan cuaca yang berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan itu, dipakailah beberapa perangkat di dalam bangunan untuk mengatur kondisi di sekitar kita menjadi cocok dengan kita. Perangkat yang digunakan itu sebagian besar memakai sumber daya energi yang tidak dapat diperbarui. Oleh sebab itu, saat sekarang ini sangat dibutuhkan penerapan hemat energi. Hal itu dapat dimulai dari bangunan dimana kita tinggal dan beraktifitas. Mulai dari solusi secara aktif yaitu pemasangan solar-cell untuk mengubah energi cahaya menjadi listrik, kincir angin untuk mengubah angin menjadi energi listrik, sampai pada solusi pasif yang lebih menitikberatkan desain bangunan itu sendiri untuk memperoleh kondisi termal dan panas yang diinginkan.
Sumber :
-       Endangsih,ST, Tri, 2007, “Penerapan Hemat Energi Pada Kenyamanan Bangunan”.


Data KDB,KLB,GSB, dan GSP Berdasarkan perda 5-2007 tangerang

Peraturan daerah
Data KDB,KLB,GSB, dan GSP Berdasarkan perda 5-2007 tangerang :

  Pengaturan KDB(pasal 20 ayat 2)
 (1) Rencana pengaturan KDB ditujukan untuk mengatur proporsi
antara daerah terbangun dengan tidak terbangun serta untuk
mengatur intensitas kepadatan bangunan.
(2) Pengaturan KDB untuk setiap blok peruntukan terbagi kedalam
empat kategori, terdiri dari :
a. blok peruntukan dengan KDB sangat tinggi (61% - 75%);
b. blok peruntukan dengan KDB tinggi (51% - 60%);
c. blok peruntukan dengan KDB menengah (21% - 50%);
d. blok peruntukan dengan KDB rendah (6% - 20%).
(3) Pengaturan KDB dimaksud pada ayat (2), untuk daerah terbangun
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 4, adalah KDB tinggi (60
               %) di arahkan pada seluruh Sub Blok kecuali di Blok A1, yang
memiliki KDB rendah (0-20 %).

·         Pengaturan KLB (pasal 21 ayat 2)
peruntukan terbagi kedalam 5 (lima) kategori, terdiri dari :
A. blok peruntukan ketinggian bangunan sangat rendah adalah blok dengan tidak bertingkat dan bertingkat maksimum dua Iantai (KLB maksimum 2 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan maksimum 12 m dari Iantai dasar;
B. blok peruntukan ketinggian bangunan rendah adalah blok dengan bangunan bertingkat maksimum 4 lantai (KLB maksimum 4 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan
maksimum 20 m dari lantai dasar;
C. blok peruntukan ketinggian bangunan sedang adalah blok dengan bangunan bertingkat maksimum 8 Iantai (KLB maksimum 8 x KDB) dengan tinggi puncak bangunanmaksimum 36 m dari lantai dasar;
D. blok peruntukan ketinggian bangunan tinggi adalah blok dengan bangunan bertingkat minimum 9 lantai (KLB minimum 9 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan maksimum 40 m dari Iantai dasar;
E. blok peruntukan ketinggian bangunan sangat tinggi adalah blok dengan bangunan bertingkat minimum 20 Iantai (KLB minimum 20 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan maksimum 80 m dari Iantai dasar.

  Garis Sempadan Bangunan(pasal 22 ayat 2) yang selanjutnya disebut GSB adalah (Jalan Lokal) dengan GSP(garis sempadan pagar) 6 m dari as jalan dan GSB 5 m dari GSP


PEKERJAAN TIANG PANCANG

 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 1 dari 11
PEKERJAAN TIANG PANCANG
U M U M1.1. Persyaratan Umum
a. Kecuali ditentukan lain, semua pekerjaan pada spesifikasi ini sepertiterlihat atau terperinci harus sesuai dengan persyaratan dari seluruhbagian dari kontrak dokumenb. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan setting out ( penentuan titik posisi tiangdilapangan sesuai dengan gambar rencana), mobilisasi dan demobilisasialat, pengadaan dan pemancangan tiang pancang beton bertulangtermasuk percobaan pengetesan pada tiang, penggalian setempat danpemotongan kepala tiang. Panjang tiang yang dicantumkan pada gambar adalah sebagai petunjuk untuk konraktor, tetapi konraktor harusmemutuskan panjang tiang yang sebenarnya yang diperlukan untukmencapai persyaratan pemancangan. Laporan penyelidikan tanah danpercobaan pemancangan tiang pendahuluan akan diberikan padaKontraktor Pekerjaan Pondasi.
1.2. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan yang berhubungan : Kontraktor bertanggung jawab atasfasilitas-fasilitas yang berkepentingan untuk pekerjaan ini seperti jalan-jalan di proyek, tempat penumpukan tiang, galian pada setiap titik,perlindungan terhadap fasilitas-fasilitas yang telah ada seperti pipa air,kabel telepon, kabel listrik, pipa gas, saluran-saluran umum dan fasilitas-fasilitas lainnya baik yang berada di lokasi proyek maupun di lokasi yangbersebelahan dengan proyek.b. Pekerjaan yang termasuk :c. Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang ini harus terdiri dari hal-hal berikut :1 Penyediaan tiang pondasi dari beton precast2 Pengadaan perlengkapan termasuk tenaga kerja3 Pemancangan tiang pondasi4 Percobaan test pembebanan tiang ( PDA Test)5 Penyerahan semua data seperti ditentukan dalam spesifikasi dan
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 2 dari 11
seperti yang diminta oleh Engineer 6 Pemotongan kelebihan panjang dari tiang
1.3. Jaminan Mutu
a. Standar-standar Semua bahan-bahan dan pengerjaan harus sesuaidengan standar-standar berikut :1 PBI 1971 : Peraturan Beton Indonesia2 SK SNI 03-2847-2002 : Tata Cara Penghitungan Struktur Beton UntukBangunan Gedung3 SII 0192-83 : Mutu dan Cara Uji Elektroda Las Terbungkus BajaKarbon Rendah.4 ASTM A-416 : Standard Specification for Uncoated Seven Wire StressRelieved Steel Strand For Prestressed Concrete.5 ASTM A-82 : Standard Specification for Cold Drawn Steel Wire For Concrete Reinforcement.6 ASTM D-1143.81 : Standard Test Method for Piles (Reapproved 1987)Under Static Axial Compressive Load.7 ASTM D-3966.90 : Standard Test Method For Piles Under LateralLoads.8. ASTM D-3689.90 : Standard Test Method For Individual Piles Under Static Axial Tensile Load.b. Jaminan Pabrik :Produksi harus secara teratur dan terus menerus serta pengiriman bahan-bahan harus dari jenis yang sesuai seperti disyaratkan.c. Jaminan Pekerja :1 Pekerjaan pemancangan tiang ini harus dikerjakan oleh tenaga kerjadan pengawas yang berpengalaman dalam pemancangan tiang darijenis yang diusulkan, sedemikian sehingga mampu untuk mencapaikapasitas tiang seperti yang disyaratkan pada berbagai macam kondisitanah yang akan dijumpai.2 Kontraktor harus menyerahkan pernyataan tertulis kepada Engineer 
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 3 dari 11
untuk menunjukkan bahwa pekerja yang akan terlibat dalam pekerjaanini berpengalaman untuk pekerjaan demikian.d. Persyaratan lapangan1 Kontraktor bertanggung jawab untuk memancang tiang dengan ukurandan jumlah seperti disyaratkan pada posisi seperti dinyatakan padagambar denah lokasi tiang, seperti yang telah disetujui oleh Engineer.Kontraktor harus didukung oleh team supervisi yang dapatdipertanggungjawabkan yang dilengkapi dengan peralatan yang presisidan sedikitnya dua orang memeriksa kelurusan dari setiap tiangselama pemancangan.2 Tiang-tiang pondasi harus dipancang sampai mencapai lapisan tanahkeras atau sesuai dengan petunjuk “pengawas yang ditunjuk”.3 Urutan pemancangan tiang dalam satu kelompok harus sesuai denganpetunjuk “pengawas yang ditunjuk”.4 Tiang-tiang yang rusak akibat kelalain kontraktor atau ditolak, menjaditanggung jawab Kontraktor dan harus dikeluarkan dari proyek.
1.4. Perubahan dan Penambahan
a. Panjang tiang yang sebenarnya boleh dimodifikasi oleh Engineer setelahpelaksanaan PDA test pada Tiang dan bilamana kondisi lapanganmensyaratkan perubahan demikian.b. Setiap perintah perubahan harus mendapat persetujuan tertulis dariEngineer.
1.5. Penyerahan
Sedikitnya 2 (dua) minggu sebelum pekerjaan dimulai. Kontraktor harusmenyerahkan hal-hal berikut kepada Engineer.a. Data Pabrik :Data produk dari pabrik tentang tiang harus diserahkan oleh Kontraktor untuk disetujui oleh Engineer.b. Gambar kerja.Kontraktor harus membuat dan menyerahkan gambar kerja metoda
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 4 dari 11
konstruksi, jadwal kerja, dan daftar perlengkapan kepada Engineer untukmendapat persetujuan.
1.6. Kondisi Kerja :
a. Kontraktor harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untukmencegah kerusakan dari tiang pancang pada waktu pengangkutan,penyimpanan dan pemancangan.b. Tiang pancang harus dirawat dan disimpan sedemikian rupa sehinga tidakterjadi tegangan-tegangan yang melebihi rencana.c. Tiang pancang harus ditumpuk pada tumpukan yang sesuai sehingga tidakterjadi kerusakan pada beton atau pengotoran dari permukaan. Tumpukanharus ditempatkan pada posisi sesuai dengan petunjuk (gambar) atautelah disetujui oleh pengawas yang ditunjuk atau dalam posisi dimanakemungkinan terjadi tekanan dan deformasi sekecil mungkin.d. Pemberian tanda pada tiang pancang dicantumkan dengan cat pada tiapinterval/jarak 0.5 m. Panjang keseluruhan tiang harus dicantumkandengan cat atau bahan lain yang disetujui. Penunjuk panjang harusdiberikan pada interval setiap 1.0 m.
MATERIAL1. Bahan-bahan tiang.
 Bahan-bahan tiang yang akan dipakai pada pekerjaan ini harus sesuai denganpersyaratan-persyaratan berikut :A. Dimensi/Ukuran-ukuran :1. Jenis tiang yang dipakai adalah tiang beton precast prestress denganukuran bujur sangkar 250 x 250 mm dan 300 x 300 mm, sepertiditunjukkan pada gambar-gambar struktur.B. Beton Mutu beton minimum yang dipakai adalah K-500 Kg/cm2 , yangharus sudah dicapai pada waktu pemancangan.C. Penulangan :1 Mutu Baja tulangan utama (BJTD) U-39, jumlah penulangan4D16 untuk pancang uk. 300 x300 mm dan 4D14 mm untuk
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 5 dari 11
pancang uk. 250x250 mm.2 Muta Baja tulangan spiral nail wire U-50
Φ
6 mm.D. Peralatan Pemancangan.1 Jenis peralatan pancang yang dipakai adalah Drop Hammer Systemdengan spesifikasi sebagai berikut :Hammer 2,5 ton, Crane 2 ton, Engine 48 HP 4 Cylinder, Electric TIGWeld, Hammer Wire dia. ¾ dan Crane Wire dia, 5/8.Overal Dimension : Height 10 mtr, Width 6 mtr dan Length 3,5 mtr.2 Sebelum pekerjaan dimulai, Konraktor harus mengajukan datalengkap dari peralatan yang akan dipergunakan, jadwal pemancangandan prosedur kerjanya termasuk mesin pancang dan peralatan yangakan digunakan dilapangan3 Cara pemancangan yang dipakai harus tidak menyebabkankerusakan pada bentuknya. Hamer (pemukul) harus dipilih yangsesuai untuk tipe tiang dan sifat dari kekuatan tiang pancang tersebut.4 Kondisi lapangan harus diperiksa untuk meyakinkan apakahmemungkinkan untuk penempatan peralatan pemancangan,pelaksanaan pemancangan dan percobaan beban.
3. Bahan-bahan lain yang harus disediakan.
Penggunaan bahan-bahan khusus : Konraktor harus menyediakan bahankhusus seperti bahan tambahan, perlengkapan las, pencegah karat dan semuabahan lain yang tidak disyaratkan disini. Percobaan-percobaan ataupun biayatambah lainnya sehubungan dengan pemakaian dari bahan-bahan tersebutdiatas adalah sepenuhnya tanggung jawa Kontraktor.
PELAKSANAAN1. Persiapan
A. Seminggu sebelum dimulainya pekerjaan Kontraktor harus mengajukanusulan mengenai urutan rencana pemancangan yang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan saling mengganggu.
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 6 dari 11
B. Metoda pemancangan, perlengkapan, jadwal dan tahapan/urutan harusmendapat persetujuan dari Engineer. Persetujuan demikian tidakmembebaskan Kontraktor dari tanggung jawabnya untuk pemancangantiang yang lancar dan bermutu tinggi. Semua kerusakan, keterlambatan dantambahan biaya yang disebabkan karena pemilihan metode harusditanggung oleh Kontraktor.C. Pengawas yang ditunjuk dapat meminta perubahan urutan pemancangandari waktu ke waktu apabila diaggap perlu.D. Pemancangan tiang harus dilakukan dalam suatu operasi yang menerus dantidak terganggu.E. Kontraktor harus memancang tiap tiang pancang tepat pada ordinat yangtelah ditentukan pada dokumen pelaksanaan, setiap koordinat tiang harusmendapat persetujuan dari pengawas yang ditunjuk sebelum mulaipemancangan.F. Kontraktor harus berusaha agar semua perlengkapan siap pakai untukmenjamin pemancangan tiang tepat pada lokasinya selama pemancangan.G. Kontraktor harus mencegah pergeseran/pergerakan dari tiang yang sudahterpancang selama tiang-tiang selanjutnya dipancang ataupun karenafasilitas-fasilitas lainnya.H. Kontraktor tidak diijinkan mendongkrak, atau mencoba untuk memindahkanatau membentuk tiang-tiang yang terpancang diluar posisi sebenarnya baikpada waktu maupun setelah pemancangan.
2. Pemancangan Tiang
A. Alat pukul (Hammer) dan penghentian pemancangan tiang.1 Untuk memancang tiang harus dipakai suatu alat pukul dari jenis diesel(a diesel hammer type). Dalam pemilihan “driving diesel hammer”haruslah dari berat yang memadai agar tidak merusak tiang. “Hammer”harus mempunya persyaratan minimum : berat ram2 Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai kedalaman yangditunjukkan dalam gambar struktur atau dengan final set yang disetujui.
 
Pekerjaan Tiang Pancang Hal 7 dari 11
3 Tiang-tiang harus dipancang secara akurat, pada lokasi yang tepat;pada garis yang benar baik secara lateral maupun longitudinal sepertiditunjukkan dalam gambar.4 Toleransi yang diijinkan tidak boleh melebihi yang dipersyaratkan dantiang-tiang harus diarahkan selama pemancangan dan bila perlu harusdibantu/ diganjal untuk dapat menjaga posisi yang benar. Apabila adatiang yang berubah bentuk atau bengkok, maka tidak boleh dipaksauntuk meluruskannya kembali kecuali dengan persetujuan tertulis daripengawas yang ditunjuk.B. Test untuk mutu tiang.Apabila pada waktu pemancangan suatu tiang, jumlah pukulan sangat tinggi( lebih dari 2000 ) atau apabila tiang dicurigai retak atau patah, P. I. T ( PileIntegrated Test ) atau test sejenis yang disetujui oleh Engineer harusdilakukan.C. Pemeriksaan naiknya kembali suatu tiang akibat pemancangan tiangdidekatnya ( heave check )Lakukan suatu heave check pada pemancangan kelompok tiang yangpertama, dan pada kelompok tiang yang dipilih seperti ditunjukkan padagambar.1 Periksa “heave” dengan mengukur panjang dan dengan mencatatelevasi pada masing-masing tiang segera setelah pemancangan selesai.2 Periksa ulang elvasi-elevasi dan panjang setelah semua tiang padasuatu kelompok selesai dipancang.3 Bila ujung ( tip ) tiang mengalami “heave” lebih dari 6 mm dari posisi asli,tiang tersebut harus dipukul kembali.D. Penilaian dari kapasitas daya dukung.Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai final set yang diijinkan olehpengawas yang ditunjuk. Pengukuran langsung dari set dan rebound harusmemberikan kapasitas tiang yang ekivalen dengan beban kerja yangdisyaratkan. Set harus ditentukan dilapangan. Set haruslah dibuktikandengan dua percobaan. Nilai konstanta yang akan dipakai untuk
1.1. Persyaratan Umum

a.              Kecuali ditentukan lain, semua pekerjaan pada spesifikasi ini sepertiterlihat atau terperinci harus sesuai dengan persyaratan dari seluruhbagian dari kontrak dokumen
b.               Pekerjaan ini meliputi pekerjaan setting out ( penentuan titik posisi tiangdilapangan sesuai dengan gambar rencana), mobilisasi dan demobilisasialat, pengadaan dan pemancangan tiang pancang beton bertulangtermasuk percobaan pengetesan pada tiang, penggalian setempat danpemotongan kepala tiang. Panjang tiang yang dicantumkan pada gambar adalah sebagai petunjuk untuk konraktor, tetapi konraktor harusmemutuskan panjang tiang yang sebenarnya yang diperlukan untukmencapai persyaratan pemancangan. Laporan penyelidikan tanah danpercobaan pemancangan tiang pendahuluan akan diberikan padaKontraktor Pekerjaan Pondasi.’

1.2. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan yang berhubungan : Kontraktor bertanggung jawab atasfasilitas-fasilitas yang berkepentingan untuk pekerjaan ini seperti jalan-jalan di proyek, tempat penumpukan tiang, galian pada setiap titik,perlindungan terhadap fasilitas-fasilitas yang telah ada seperti pipa air,kabel telepon, kabel listrik, pipa gas, saluran-saluran umum dan fasilitas-fasilitas lainnya baik yang berada di lokasi proyek maupun di lokasi yangbersebelahan dengan proyek

b. Pekerjaan yang termasuk :

Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang ini harus terdiri dari hal-hal berikut :
1 . Penyediaan tiang pondasi dari beton precast

2.  Pengadaan perlengkapan termasuk tenaga kerja3 Pemancangan tiang pondasi4 Percobaan test pembebanan tiang ( PDA Test)5 Penyerahan semua data seperti ditentukan dalam spesifikasi dan
seperti yang diminta oleh Engineer 6 Pemotongan kelebihan panjang dari tiang

1.3. Jaminan Mutu
a. Standar-standar Semua bahan-bahan dan pengerjaan harus sesuaidengan standar-standar berikut :

1 PBI 1971 : Peraturan Beton Indonesia
2 SK SNI 03-2847-2002 : Tata Cara Penghitungan Struktur Beton UntukBangunan Gedung
3 SII 0192-83 : Mutu dan Cara Uji Elektroda Las Terbungkus BajaKarbon Rendah.
4 ASTM A-416 : Standard Specification for Uncoated Seven Wire StressRelieved Steel Strand For Prestressed Concrete.
5 ASTM A-82 : Standard Specification for Cold Drawn Steel Wire For Concrete Reinforcement.
6 ASTM D-1143.81 : Standard Test Method for Piles (Reapproved 1987)Under Static Axial Compressive Load.
7 ASTM D-3966.90 : Standard Test Method For Piles Under LateralLoads.
8. ASTM D-3689.90 : Standard Test Method For Individual Piles Under Static Axial Tensile Load.

b.Jaminan Pabrik :Produksi harus secara teratur dan terus menerus serta pengiriman bahan-bahan harus dari jenis yang sesuai seperti disyaratkan.

c. Jaminan Pekerja :
1 . Pekerjaan pemancangan tiang ini harus dikerjakan oleh tenaga kerjadan pengawas yang berpengalaman dalam pemancangan tiang darijenis yang diusulkan, sedemikian sehingga mampu untuk mencapaikapasitas tiang seperti yang disyaratkan pada berbagai macam kondisitanah yang akan dijumpai.
2 . Kontraktor harus menyerahkan pernyataan tertulis kepada Engineer untuk menunjukkan bahwa pekerja yang akan terlibat dalam pekerjaanini berpengalaman untuk pekerjaan demikian.

d.Persyaratan lapangan
1 . Kontraktor bertanggung jawab untuk memancang tiang dengan ukurandan jumlah seperti disyaratkan pada posisi seperti dinyatakan padagambar denah lokasi tiang, seperti yang telah disetujui oleh Engineer.Kontraktor harus didukung oleh team supervisi yang dapatdipertanggungjawabkan yang dilengkapi dengan peralatan yang presisidan sedikitnya dua orang memeriksa kelurusan dari setiap tiangselama pemancangan.
2 . Tiang-tiang pondasi harus dipancang sampai mencapai lapisan tanahkeras atau sesuai dengan petunjuk “pengawas yang ditunjuk”.
3.  Urutan pemancangan tiang dalam satu kelompok harus sesuai denganpetunjuk “pengawas yang ditunjuk”.
4 . Tiang-tiang yang rusak akibat kelalain kontraktor atau ditolak, menjaditanggung jawab Kontraktor dan harus dikeluarkan dari proyek.

1.4. Perubahan dan Penambahan
a. Panjang tiang yang sebenarnya boleh dimodifikasi oleh Engineer setelahpelaksanaan PDA test pada Tiang dan bilamana kondisi lapanganmensyaratkan perubahan demikian.
b. Setiap perintah perubahan harus mendapat persetujuan tertulis dariEngineer.

1.5. Penyerahan
Sedikitnya 2 (dua) minggu sebelum pekerjaan dimulai. Kontraktor harusmenyerahkan hal-hal berikut kepada Engineer.
a. Data Pabrik :Data produk dari pabrik tentang tiang harus diserahkan oleh Kontraktor untuk disetujui oleh Engineer.
b. Gambar kerja.Kontraktor harus membuat dan menyerahkan gambar kerja metoda konstruksi, jadwal kerja, dan daftar perlengkapan kepada Engineer untukmendapat persetujuan.
1.6. Kondisi Kerja :
a. Kontraktor harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untukmencegah kerusakan dari tiang pancang pada waktu pengangkutan,penyimpanan dan pemancangan.
b. Tiang pancang harus dirawat dan disimpan sedemikian rupa sehinga tidakterjadi tegangan-tegangan yang melebihi rencana.
c. Tiang pancang harus ditumpuk pada tumpukan yang sesuai sehingga tidakterjadi kerusakan pada beton atau pengotoran dari permukaan. Tumpukanharus ditempatkan pada posisi sesuai dengan petunjuk (gambar) atautelah disetujui oleh pengawas yang ditunjuk atau dalam posisi dimanakemungkinan terjadi tekanan dan deformasi sekecil mungkin.
d. Pemberian tanda pada tiang pancang dicantumkan dengan cat pada tiapinterval/jarak 0.5 m. Panjang keseluruhan tiang harus dicantumkandengan cat atau bahan lain yang disetujui. Penunjuk panjang harusdiberikan pada interval setiap 1.0 m.

MATERIAL

1. Bahan-bahan tiang.
 Bahan-bahan tiang yang akan dipakai pada pekerjaan ini harus sesuai denganpersyaratan-persyaratan berikut :
A.             Dimensi/Ukuran-ukuran :1. Jenis tiang yang dipakai adalah tiang beton precast prestress denganukuran bujur sangkar 250 x 250 mm dan 300 x 300 mm, sepertiditunjukkan pada gambar-gambar struktur.
B.             Beton Mutu beton minimum yang dipakai adalah K-500 Kg/cm2 , yangharus sudah dicapai pada waktu pemancangan.
C.              Penulangan :1 Mutu Baja tulangan utama (BJTD) U-39, jumlah penulangan4D16 untuk pancang uk. 300 x300 mm dan 4D14 mm untuk pancang uk. 250x250 mm.2 Muta Baja tulangan spiral nail wire U-50 Φ 6 mm
D.            Peralatan Pemancangan.

1 Jenis peralatan pancang yang dipakai adalah Drop Hammer Systemdengan spesifikasi sebagai berikut :Hammer 2,5 ton, Crane 2 ton, Engine 48 HP 4 Cylinder, Electric TIGWeld, Hammer Wire dia. ¾ dan Crane Wire dia, 5/8.Overal Dimension : Height 10 mtr, Width 6 mtr dan Length 3,5 mtr.
2 Sebelum pekerjaan dimulai, Konraktor harus mengajukan datalengkap dari peralatan yang akan dipergunakan, jadwal pemancangandan prosedur kerjanya termasuk mesin pancang dan peralatan yangakan digunakan dilapangan
3 Cara pemancangan yang dipakai harus tidak menyebabkankerusakan pada bentuknya. Hamer (pemukul) harus dipilih yangsesuai untuk tipe tiang dan sifat dari kekuatan tiang pancang tersebut.
4 Kondisi lapangan harus diperiksa untuk meyakinkan apakahmemungkinkan untuk penempatan peralatan pemancangan,pelaksanaan pemancangan dan percobaan beban.
3. Bahan-bahan lain yang harus disediakan.
Penggunaan bahan-bahan khusus : Konraktor harus menyediakan bahankhusus seperti bahan tambahan, perlengkapan las, pencegah karat dan semuabahan lain yang tidak disyaratkan disini. Percobaan-percobaan ataupun biayatambah lainnya sehubungan dengan pemakaian dari bahan-bahan tersebutdiatas adalah sepenuhnya tanggung jawa Kontraktor.

PELAKSANAAN

1. Persiapan
A. Seminggu sebelum dimulainya pekerjaan Kontraktor harus mengajukanusulan mengenai urutan rencana pemancangan yang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan saling mengganggu.



B. Metoda pemancangan, perlengkapan, jadwal dan tahapan/urutan harusmendapat persetujuan dari Engineer. Persetujuan demikian tidakmembebaskan Kontraktor dari tanggung jawabnya untuk pemancangantiang yang lancar dan bermutu tinggi. Semua kerusakan, keterlambatan dantambahan biaya yang disebabkan karena pemilihan metode harusditanggung oleh Kontraktor.
C. Pengawas yang ditunjuk dapat meminta perubahan urutan pemancangandari waktu ke waktu apabila diaggap perlu.
D. Pemancangan tiang harus dilakukan dalam suatu operasi yang menerus dantidak terganggu.
E. Kontraktor harus memancang tiap tiang pancang tepat pada ordinat yangtelah ditentukan pada dokumen pelaksanaan, setiap koordinat tiang harusmendapat persetujuan dari pengawas yang ditunjuk sebelum mulaipemancangan.
F. Kontraktor harus berusaha agar semua perlengkapan siap pakai untukmenjamin pemancangan tiang tepat pada lokasinya selama pemancangan.
G. Kontraktor harus mencegah pergeseran/pergerakan dari tiang yang sudahterpancang selama tiang-tiang selanjutnya dipancang ataupun karenafasilitas-fasilitas lainnya.
H. Kontraktor tidak diijinkan mendongkrak, atau mencoba untuk memindahkanatau membentuk tiang-tiang yang terpancang diluar posisi sebenarnya baikpada waktu maupun setelah pemancangan.

2. Pemancangan Tiang
A. Alat pukul (Hammer) dan penghentian pemancangan tiang.

1 . Untuk memancang tiang harus dipakai suatu alat pukul dari jenis diesel(a diesel hammer type). Dalam pemilihan “driving diesel hammer”haruslah dari berat yang memadai agar tidak merusak tiang. “Hammer”harus mempunya persyaratan minimum : berat ram
2 . Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai kedalaman yangditunjukkan dalam gambar struktur atau dengan final set yang disetujui
3 Tiang-tiang harus dipancang secara akurat, pada lokasi yang tepat;pada garis yang benar baik secara lateral maupun longitudinal sepertiditunjukkan dalam gambar.
4 Toleransi yang diijinkan tidak boleh melebihi yang dipersyaratkan dantiang-tiang harus diarahkan selama pemancangan dan bila perlu harusdibantu/ diganjal untuk dapat menjaga posisi yang benar. Apabila adatiang yang berubah bentuk atau bengkok, maka tidak boleh dipaksauntuk meluruskannya kembali kecuali dengan persetujuan tertulis daripengawas yang ditunjuk.

B. Test untuk mutu tiang.
Apabila pada waktu pemancangan suatu tiang, jumlah pukulan sangat tinggi( lebih dari 2000 ) atau apabila tiang dicurigai retak atau patah, P. I. T ( PileIntegrated Test ) atau test sejenis yang disetujui oleh Engineer harusdilakukan.

C. Pemeriksaan naiknya kembali suatu tiang akibat pemancangan tiangdidekatnya ( heave check)
Lakukan suatu heave check pada pemancangan kelompok tiang yangpertama, dan pada kelompok tiang yang dipilih seperti ditunjukkan padagambar.
1.  Periksa “heave” dengan mengukur panjang dan dengan mencatatelevasi pada masing-masing tiang segera setelah pemancangan selesai.
2.  Periksa ulang elvasi-elevasi dan panjang setelah semua tiang padasuatu kelompok selesai dipancang.
3. Bila ujung ( tip ) tiang mengalami “heave” lebih dari 6 mm dari posisi asli,tiang tersebut harus dipukul kembali.

D.Penilaian dari kapasitas daya dukung.
Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai final set yang diijinkan olehpengawas yang ditunjuk. Pengukuran langsung dari set dan rebound harusmemberikan kapasitas tiang yang ekivalen dengan beban kerja yangdisyaratkan. Set harus ditentukan dilapangan. Set haruslah dibuktikandengan dua percobaan. Nilai konstanta yang akan dipakai untuk memodifikasi rumus akan ditaksir oleh Engineer setelah tiang pertamaselesai dipancang dan setelah grafik rebound/set diperoleh.

E.Tiang-tiang yang rusak atau salah tempat.
Apabila suatu tiang rusak padawaktu pemancangan, percobaan atau oleh sebab lain atau salah letak ataugagal karena kelalaian kontraktor, Kontraktor diwajibkan untuk mengadakanpenambahan tiang pada posisi yang ditentukan oleh Engineer sedemikiansehingga akhirnya dihasilkan daya dukung yang disyaratkan.

F.Pendataan Pemancangan Tiang
Kontraktor harus mengambil data dari setiap tiang yang dipancang dandilengkapi dengan paraf pengawas yang ditunjuk pada masing-masing data,setiap hari. Pemancangan, set dan rebound dari setiap tiang harusmengikuti persetujuan Engineer. Data pemancangan setiap tiang harusdiserahkan kepada pengawas yang ditunjuk dan tembusan ( copy )-nyaharud disimpan oleh Kontraktor. Data laporan harus meliputi hal-hal berikut :
1.               Nama Proyek
2 . Nomor tiang
3 . Tanggal pemancangan
4 . Cuaca
5.  Set, rebound dan tinggi jatuh (ram height) pada pukulan terakhir (last tenblow )
6 . Dalamnya pemancangan dari level tanah
7 . Level tanah
8 . panjang tiang
9.  Jenis alat pukul ( Hammer type )
10 . Sambungan yang dipakai, jumlah dan jenisnya ( kalau ada sambungan )
11 . Waktu / saat mulai dan waktu selesai pemancangan
12 . Jumlah pukulan dan rata-rata set tiap 0.5 meter
 13 . Tinggi jatuh yang sebenarnya ( actual ram stroke )
14.  Semua informasi lain seperti yang disyaratkan Engineer.
15 . Metoda pengukuran set dan rebound harus disetujui oleh Engineer

Record di atas harus menunjukkan satu seri pengukuran set selamaseluruh proses pemancangan. Apabila pemancangan suatu tiangdimulai, maka harus dilakukan sampai selesai dan mencapai set yangdisyaratkan ( kecuali waktu penyambungan ).

H. Kepala tiang
1.              Setelah pemancangan selesai dilaksanakan, Kontraktor wajib untukmemotong kelebihan panjang tiang pancang sedemikian sehinggapanjang stek tulangan setelah pemotongan kepala tiang minimum 40diameter tulangan tiang pancang terbesar, sebagai pengikat ke poor ( pile cap ).Setelah pemancangan selesai, Kontraktor harus segera melanjutkandengan memeriksa level dan mencatat posisi-posisi tiang secara detaildan akurat serta membandingkannya dengan posisi yang dicantumkanpada gambar denah tiang. Kontraktor harus menyediakan surveyor dilapangan untuk pekerjaan tersebut.
2.              2 Stek tulangan tiang setelah permotongan kepala tiang ( panjangminimum 40 diameter ) harus dalam keadaan bersih, lurus dan baik.3 Kepala tiang setelah dipotong harus dibersihkan dengan sikat kawat.4 Batas pemotongan kepala tiang harus tepat sesuai dengan petunjuk/gambar.

I.                                           Sambungan tiang dan pengelasan :
1 Kontraktor atau pabrik pembuat tiang pancang harus menyerahkansystem sambungan tiang untuk disetujui Engineer sebelum pemasangandi lapangan.
2. Detail dari sambungan harus terdiri dari :
a. Sistem sambungan yang akan dipakai.
b. Detail pengelasan dan mutu dari bahan pengelasan
c. Prosedur pengelasan

J. Laporan dan pemeriksaan pekerjaan pondasi tiang.
Pada waktu selesainya pekerjaan pondasi tiang, sebuah laporan yang tepat harus segera dibuat dan diserahkan dalam rangkap 3 (tiga ) kepada pengawas yang ditunjuk. Hal-hal berikut harus termasuk juga di dalam laporan :
1 Ringkasan pekerjaan ( sketsa, metoda, tanggal waktu mengerjakan ,dan lain-lainnya )
2 Laporan tentang pukulan ( blows )
3 Laporan harian pekerjaan untuk pemancangan :
a. Waktu yang disyaratkan untuk pemancangan
b. Jumlah pukulan
c. kedalaman pemancangan
d. Nilai pemancangan akhir
 e. Nilai rebound
 f.Daya dukung akhir yang diijinkan4 Laporan test Tiang Pancang ( PDA Test ).5 Denah ( lay out ) tiang dan toleransinya.

3 . PENGUJIAN PONDASI TIANG PANCANG ( PDA TEST ).

A. Umum:
1 . Pelaksanaan pengujian tiang pondasi dilakukan setelah tiang yangdipilih telah dipancang selama 14 hari untuk memberikan kesempatantanah mencapai pemulihan dari kondisi pemancangan.Pekerjaan tiangdisekitar lokasi pengujian harus dihentikan selama proses pengujian.
2 . Kontraktor wajib menyediakan semua pekerja dam material/peralatanyang diperlukan untuk persiapan, pelaksanaan, dan pengukuran hasilpengujian.
3 . Selama proses dan operasional pengujian pondasi tiang pancang ,Kontraktor wajib menyediakan dan menempatkan tenaga kerja yang ahliuntuk mengoperasikan, mengamati dan mencatat pengujian.
4 . Pengujian pondasi tiang harus dilakukan pada tiang-tiang pondasi yangdipilih oleh Perencana/ Pengawas.
5 . Pondasi tiang yang akan diuji harus mempunyai bahan dan ukuran yang
sama dengan pondasi-pondasi tiang yang digunakan sebagai pondasitiang di proyek tersebut dan harus dipancang dengan alatpancang,metoda dan prosedur yang sama

B. Beban Uji Standar Terhadap Tiang Pancang.
Beban aksial tekan penuh terhadap tiang uji harus minimal 2 ( dua) kalidari beban rencana ( = 2x 70 ton = 140 ton ) sesuai dengan ASTM D1143-81, atau sesuai petunjuk Pengawas/Perencana.

C. Peralatan dan Perangkat Pembebanan
Pembebanan tiang dilakukan dengan menggunakan metoda PDA ( PileDynamic Analisys ) dengan beban jumlah beban equivalent denganminimum 1.1 kali beban uji.

D. Prosedur Pembebanan :
Beban uji vertikal harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi pembebanandinamik yang dilakukan oleh Pelaksana PDA.

E. Standar Kegagalan Uji beban Tiang Pondasi :
 1 . Kegagalan pada tiang uji dianggap terjadi bila dalam proses pengujiandihasilkan nilai-nilai analisa dinamis tiang pancang yangmengindikasikan kemampuan daya dukung yang tidak sesuai dengandaya dukung rencana.
2 . Uji beban tidak mungkin diselesaiakan karena ketidakstabilan sistempembebanan ,kerusakan pilecap, alat ukur atau kesalahan lainnya yangdilakukan oleh kontraktor.
3 . Ada bagian tiang yang ditemukan retak, hancur atau berubah bentukdari bentuk asalnya atau arahnya, melengkung dari posisi awal ataukondisi lainnya yang dianggap membahayakan.